Potensi eCommerce Indonesia

Potensi eCommerce Indonesia

Ketika Grab mengakuisisi UBER diharapkan market Grab akan menjadi luas.  Hal itu mungkin yang menjadi salah satu pertimbangan Alibaba akan mengucurkan investasi ke Grab.

Tidak heran memang, karena Indonesia (tahun 2017) menurut E-Marketer adalah negara dengan pengguna internet (utamanya via smartphone) yang besar, yaitu 86,6 juta pengguna. Angka ini meningkat 17,2 juta pengguna bila dibandingkan dengan tahun 2016, atau meningkat 24 persen. Bila dilihat perkembangannya dalam 3 tahun ke belakang, selalu terjadi peningkatan. Awalnya hanya 38,3 juta pengguna saja di tahun 2014, lalu 52,2 juta pengguna di tahun 2015, kemudian menjadi 69,4 juta pengguna di tahun 2016, hingga akhirnya di tahun 2017 sebesar 86,6 juta pengguna.

Dengan fakta tersebut tidak berlebihan tentunya bila Indonesia disebut sebagai “raksasa teknologi Asia Tenggara yang sedang tertidur” oleh TechiniAsia. Menurut saya “gelar” itu memang agak mengejutkan bila dibandingkan dengan penetrasi internet Indonesia yang bisa dibilang biasa saja perkembangannya. Kenapa demikian? Karena di level Asia Tenggara saja, peringkat Indonesia versi wearesocial.sg masih dibawah Singapura, Malaysia, bahkan Vietnam.

Namun demikian, dengan sumber daya manusianya yang jauh melebihi Singapura, sangat dimungkinkan potensi Indonesia sangat terbuka lebar. Potensi jumlah penduduk tersebut sepertinya sudah disadari oleh para investor, seperti Alibaba yang berencana mengucurkan Rp 82,6 T pada Grab, dan pendanaan yang didapat oleh Tokopedia dari Softbank dan Sequoia Capital sebesar Rp 1,4 T.

Pada 2014 menurut survei Globalwebindex, jumlah masyarakat yang membeli barang secara online (via smartphone) di Indonesia baru sekitar 14 persen dari populasi nasional. Meskipun tidak dipungkiri masih banyak pembelian online dilakukan via komputer pribadi ataupun laptop. Namun, bila dilihat pada tahun yang sama (2014) pengguna smartphone Indonesia yang 38, 3 juta pengguna (asumsi pembelian online dilakukan via smartphone), lalu pada 2017 dimana pengguna smartphone sudah mencapai 86,6 juta, maka terbayang perkembangan jumlah penduduk Indonesia yang melakukan transaksi secara online.

Transaksi e-commerce secara global pada 2014 masih sekitar USD 1,3 T, namun peningkatan tajam terjadi seiring bertambah mudahnya akses teknologi dan komunikasi di berbagai belahan dunia. Terbukti hanya dalam kurun waktu 3 tahun saja transaksi global e-commerce pada 2017 telah mencapai hampir 2 kali lipatnya, yaitu USD 2,3 T.

BACA JUGA:  Airlangga Dorong Pembangunan Pusat Inovasi Semakin Masif

Sekadar informasi, transaksi e-commerce Indonesia cukup membanggakan. Alasannya adalah karena transaksi online Indonesia bisa mengalahkan Malaysia yang di atas kertas lebih melek teknologi daripada kita. Pangsa pasar e-commerce dibandingkan penjualan ritel di Indonesia versi Katadata Indonesia sudah 1,2 persen pada 2015, lebih tinggi dibanding Malaysia yang baru 1 persen. Peringkat pertama tentunya diduduki oleh Tiongkok dengan porsi 13,8 persen.

Meskipun begitu, saya pikir Indonesia bisa berkembang jauh lebih besar mengalahkan paling tidak negara-negara se-Asia Tenggara seiring dengan potensi pengguna internet dan smartphone-nya. Hal ini sudah terjadi pada Tiongkok yang pada 2005 mencatatkan hanya 0,4 persen saja transaksi e-commerce-nya dari transaksi global, jauh dibandingkan Amerika yang sudah 35 persen. Tetapi dalam satu dekade Tiongkok mampu melompat menjadi 42,4 persen melewati Amerika yang hanya 24,1 persen saja.

Saya merasa tidak bermimpi bahwa Indonesia bisa berubah menjadi raksasa e-commerce dunia, mengingat lompatan yang terjadi di Tiongkok bukan tidak mungkin dapat dicontoh Indonesia. Faktor pendorong Tiongkok melesat di sektor digital menurut Senior Fellow Mckinsey Global Institute Jeongmin Soeng adalah; satu, cepatnya komersialisasi dalam skala besarnya pasar anak muda. Kedua, hadirnya raksaksa digital berkapitalisasi besar yang mampu membangun ekosistem secara digital seperti Alibaba, Baidu, dan Tencent. Ketiga, pemerintah yang memberi ruang bagi pemain ekonomi digital bereksperimen sebelum diberlakukan peraturan resmi.

Optimisme itu muncul karena ketiga faktor penunjang tersebut sebenarnya sudah ada di Indonesia, meskipun dalam skala yang masih relatif kecil. Pertama, tentang pasar anak muda yang mendominasi. Sesuai survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, usia pengguna internet adalah di rentang 35-44 tahun (29,2%) yang artinya adalah usia produktif. Ditambah lagi perilaku para pengguna internet yang dominan mengunjungi online shop sebesar 82,2 juta atau 62%, dan rata-rata menggunakan smartphone-nya untuk berselancar di dunia maya, yaitu 63,1 juta pengguna atau 47,6%.

BACA JUGA:  Startup ini Menjadi E-Commerce yang Patut Diperhitungkan, Walaupun Pada Awalnya Dibangun di Sebuah Garasi

Kedua, telah hadirnya mesin pencari buatan Indonesia seperti findtoyou.comnowgoogle.com, dan Geevy. Memang ketiganya masih sangat jauh untuk dibandingkan dengan Google yang dipakai oleh 81,8 juta pengguna internet Indonesia sebagai browser utama, karena masih minim sumber daya (meskipun Geevy sudah mulai mendapat sokongan investor lokal, RnB Fund).

Namun kembali lagi, bila mimpinya adalah seperti apa yang dilakukan Tiongkok maka faktor ketiga yaitu peran pemerintah menjadi faktor yang sangat penting dan menentukan. Kebijakan pemerintah yang sangat dibutuhkan (sebenarnya bukan hanya di industri e-commerce) adalah kemudahan dalam mendapatkan pendanaan terhadap usaha digital yang kebanyakan adalah IKM.

Sebenarnya program pemerintah untuk kemudahan pendanaan saat ini sudah ada, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Namun demi mimpi kebangkitan ekonomi melalui momen e-commerce ini, tidak ada salahnya pemerintah membuat program pendanaan tersendiri. Kebijakan lanjutan setelah itu dapat berupa kebijakan fiskal, seperti keringanan atau insentif pajak atas pelaku usaha digital. Logikanya adalah agar para pengusaha digital dapat lebih konsentrasi mengembangkan bisnisnya, hingga nantinya diharapkan berkembang pesat, dan dapat memberikan sumbangsih lebih besar kepada negara.

Penyediaan pelatihan menjadi hal penting juga. Mungkin saat ini sudah tersebar banyak Balai Latihan Kerja (BLK) di seluruh Indonesia. Namun saya pribadi belum melihat efek “wow” dalam meningkatkan kemampuan masyarakat dalam segi berwirausaha. Menurut saya pemerintah dapat menggunakan jaringan BLK di seluruh Indonesia sebagai kawah candradimuka dalam melatih dan mempersiapkan para usahawan dan usahawati digital menjadi lebih tahan banting.

Nah, kalau sudah begitu bagaimana, percaya atau tidak?

sumber: detik[]com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Contact Us support@abdeko.com