DIGITAL ATAU MANUAL

DIGITAL ATAU MANUAL

Digital atau Manual.

@Iko.Abdeko

Fenomena saat ini dua kekuatan “ideologi” untuk mendapatkan share market global ataupun di Indonesia di dominasi oleh dua kekuatan ini. Dalam hal ini “Ideologi” secara kasat mata memang terlihat saling bersaing, padahal secara analitical dua “ideologi” ini sebenarnya adalah saling berkaitan dan saling membutuhkan satu-sama lain.

Dua “idiologi” ini adalah Digital dan Tradisional atau masyarakat awam menggunakan istilah “manual”. Dua kekuatan  ini saling mengendalikan market share masing-masing. Di Indonesia market share “manual” didominasi oleh Pasar Tradisional yang dikelola oleh Pemerintah Daerah (PD Pasar) atau UMKM setempat, yang jam oprasionalnya dibatasi, Toko Bangunan perseorangan dan toko “sedikit” modern milik perseorangan.

Demografi dan iklim di Indonesia yang memungkinkan “idiologi” Tradisional ini berkembang dan tetap bertahan walaupun di tempa oleh kondisi persaingan yang makin ketat dengan Industi Digital. Dalam hal ini pemerintah berupaya meningkatkan sarana dan prasarana penunjang, manajemen suplai barang, keamanan dan kenyamanan serta kesehatan untuk meningkatkan transaksi secara continue atau berkesinambungan. Kenapa? Sebab dengan meningkatkan variabel penunjang diatas diharapkan pelanggan atau calon pembeli merasa nyaman untuk bertransaksi.

“Idiologi” Tradisional ini juga yang menjadi target Pemerintah Jokowi saat ini dengan prinsip “Berdikari dalam Bidang Ekonomi”, yaitu dengan merevitalisasi terhadap 5000 pasar rakyat yang berumur lebih dari 25 tahun beroprasional. Diharapkan dengan revitalisasi akan mengangkat peran tradisional market ini menjadi pondasi perekonomian suatu wilayah dan mampu berkompetisi dengan pasar modern.

“Idiologi” Digital yang saat ini seperti “virus” yang berkembang secara cepat, masif dan terstruktur merupakan fenomena yang ajaib, yang nikmat diikuti perkembangnnya. “Idiologi” ini memiliki dampak yang significant bagi berbagai tingkatan apapun termasuk lini di lapisan Industi atau pelaku bisnis. Dan revolusi ini dimulai dengan munculnya internet yang dapat menghubungkan komunikasi secara “word wide”. Dalam perspektif ini penjual dan pembeli di belahan dunia manapun dapat terhubung dengan cepat dan akurat untuk melakukan transaksi, sebab ada satu bahasa yang dipahami oleh kedua pelaku ini yaitu “tools digital”, yang memudahkan keduanya bertransaksi hanya dengan mengandalkan icon-icon pada framework web.

BACA JUGA:  Startup ini Menjadi E-Commerce yang Patut Diperhitungkan, Walaupun Pada Awalnya Dibangun di Sebuah Garasi

Ekonomi digital ini dapat terhubung dengan menggunakan perangkat desktop, laptop, aplikasi, email, web bahkan dengan menggunakan mobile phone yang bisa diakses “any time and any whare” dengan tidak ada limitasi untuk bertransaksi.

Peluang ini menghantarkan Indonesia menuju persaingan Global yang tidak ada “barrier” dan  lintas batas ekonomi. Produk yang ditawarkan dan dihasilkan harus memiliki daya saing yang ditopang oleh “digital marketing”. Untuk memperkenalkan produk kreatif secara masif kepada konsumen dan calon konsumen di Indonesia bahkan seluruh Dunia.

wowrack.co.id_marketing online

bersambung ……………………………..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Contact Us support@abdeko.com